Negeri para joki

Selamat datang di negeri joki. Di negara ini, ada banyak hal yang bisa diwakilkan kepada para joki. Mulai dari joki 3in1, joki yang mewakili calon mahasiswa perguruan tinggi, hingga mereka yang mewakilkan calon PNS dalam ujian penerimaan. Berita yang cukup mengejutkan adalah munculnya joki narapidana.

Kisah perjokian narapidana ini memang baru sekali terungkap. Usaha ini terungkap dengan tak sengaja, gara-gara tetangga yang berniat menjenguk napi yang dimaksudkan malah mendapat orang lain yang tidak dikenalnya.

Kasus ini mungkin terlihat kecil, tapi penyelesaiannya tidak cukup dengan memecat pejabat yang terlibat. Kebobrokan aparat negeri ini membuat hukuman penjara tak lagi menimbulkan efek jera.

Jika berduit banyak seperti Gayus Tambunan orang bahkan tak perlu menyewa joki. Ia bisa keluar masuk rutan berkali-kali bahkan pergi keluar negri. Kalaupun tak bisa keluar, sel pernjara juga bisa disulap menjadi senyaman hotel. Bahkan, dari penyelidikan BNN, banyak bandar narkotika menjadikan penjara sebagai “kantor”.

Vonis penjara dari hakim terlalu lama? Santai saja. Akan ada remisi dan berbagai pengurangan hukuman. Bila “berperilaku baik”, nara pidana bisa benar-benar menghirup udara bebas jauh sebelum masa hukumannya selesai.

Itulah faktanya. Yang makin membuat miris, semua kebusukan itu terkesan ditutup-tutupi oleh aparat penegak hukum. Penghusutan baru dilakukan setelah masalahmya ramai dibicarakan publik. Kasus-kasus yang beredar di negeri ini kebanyakan diungkap dari laporan masyarakat itu. Ini menunjukan adanya kongkalikong antara petugas dan juga lemahnya pengawasan.

Adanya usul penambahan anggaran untuk lembaga permasyarakatan tidak cukup menyelesaikan persoalan yang ada. Masalah mendasarnya adalah kuatnya mental. Meminjam judul salah satu film warkop DKI, “semua bisa diatur”. Petugas hukum dan aparat negara lainnya selalu punya cara untuk mengakali peraturan yang seharusnya mereka jaga.

Lalu, apa gunanya penjara? Apa gunanya hukuman? Apa gunanya pengadilan? Di negeri para joki ini, semua peraturan bisa diakali. Semua bisa diatur, dengan atau tanpa joki.

 

Sumber : koran TEMPO edisi Jum’at 7 Januari 2011 halaman A2

 

 

About kiki.febrian

manusia biasa yang simple dan apa adanya

Posted on Februari 13, 2011, in Kewarganegaraan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: