Koin

Memperbincangkan koin dalam situasi perekonomian saat sekarang ini, seperti membicarakan sesuatu yang tak nerharga. Dulu uang logam itu menunjuk pada nilai sen, sementara uang kertas terkecil bernilai satu rupiah. Sekarang ada koin seribu rupiah, anak-anak pun tak pernah mendengar kata sen.

Koin disukai anak-anak untuk menabung, karena lebih praktis dicemplungkan dan juga anak-anak suka mengocok celengan itu untuk pamer bahwa ia sudah menabung. Ini pelajaran bagaimana moral bangsa ini di masa lalu ditekankan untuk berhemat.

“Polisi cepek”, profesi yang dulu hanya ada di Jakarta tapi kini menyebar dari Sabang sampai Merauke, sudah tak mau menerima uang logam “cepekan”. Rp. 100 tak ada apa-apa.

Uang logam diperlukan, tapi uang berbentuk koin ini sudah dinistakan. Bahkan kini koin juga dijadikan alat penista utama untuk menjatuhkan kehormatan seseorang, termasuk presiden. Ada gerakan pengumpulan koin untuk presiden karena penggeraknya merasa perlu menghina presiden yang disebut-sebut mengeluh soal gajingya yang tidak naik.

Lalu gerakan itu dibalas dengan pengumpulan koin untuk wakil rakyat, yang menurut penggeraknya, supaya wakil rakyat lebih sejahtera sehingga tak perlu korupsi. Maklumlah, sudah ada 25 wakil rakyat yang dijebloskan ke penjara, jumlah yang sudah memenihi syarat untuk sebuah Tim Nasional Sepak Bola.

Saya tak bermaksud membela SBY dalam urusan koin ini, karena saya sangat percaya presiden hanya kebablasan bicara dalam situasi dimana beliau selalu menjadi sasaran tembak. Saya juga tak membela wakil rakyat dalam urusan koin ini, karena saya makin percaya, kekurangan para wakil rakyat itu bukan soal sejahtera, melainkan minimnya etika.

Saya hanya usul, rencana penyederhanaan nilai rupiah terus dilanjutkan, sehingga koin mempunyai nilai seperti dulu. Apalagi koin adalah sarana pendidikan moral dalam membentuk generasi yang suka menabung, bukan generasi yang menistakan uang logam maupun kertas yang akhirnya membuat anak bangsa ini boros dan bermental korup.

 

Sumber : Koran TEMPO edisi Minggu, 6 Februari 2011 halaman A2

Penulis : Putu Setia

 

About kiki.febrian

manusia biasa yang simple dan apa adanya

Posted on Februari 13, 2011, in Kewarganegaraan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: