Bila Orang-orang Penting Hijrah

Semakin banyaknya ilmuwan Indonesia yang bekerja di luar negeri tak harus dirisaukan. Dengan mobilitas antar negara yang tinggi, mustahil memelihara kecemasan terhadadap fenomena yang disebut brain drain. Lebih jauh lagi, ibarat keping koin, harus disadari pula brain drain punya sisi lain yang menguntungkan.

Memberi perhatian serius pada sisi baik itu, tak berarti mengabaikan keharusan untuk mengatasi dampak negatif brain drain. Upaya pencegaha bisa tetap dijalankan. Menambah kesempatan kerja yang lebih maju di bidang penelitian tetap harus dilakukan. Akan lebih bagus jika, pada saat yang sama, waktu, pikiran, dan tenaga dikerahkan untuk mengoptimalkan efek positif brain drain serta mengalokasikan anggaran untuk memberikan penghargaan yang lebih tinggi.

Secara teori, bahkan di negara termiskin sekalipun, prospek untuk bisa bekerja di luar negeri bisa berarti peluang untuk mendapatkan pendidikan dan keterampilan lebih tinggi. Inilah brain gain yang, menurut sejumlah ekonom, impak terhadap kesejahteraan dan pertumbuhan bisa melampaui akibat buruk brain drain.

Dalam konteks impak migrasi terhadap suatu perekonomian atau masyarakat, brain drain pun hanyalah suatu aspek. Masih ada aspek-aspek arus masuk devisa, transfer teknologi, masuknya investasi, dan perdagangan, bahkan kegiatan komunitas yang merupakan bagian dari kehidupan para imigran. Jika semuanya diperhitungkan, impak totalnya bisa positif.

Pengalaman menunjukan banyak dari mereka yang hijrah ke negara lain lulus pendidikan di luar negeri dengan sponsor yang juga bukan dari dalam negeri. Dengan memilih tetap merantau setamat sekolah, mereka memang tidak bisa berkontribusi bangi kampung halamannya. Tapi ongkos keputusan mereka itu, dalam ukuran pengeluaran publik, bisa jadi kecil saja. Selain itu, banyak dari mereka yang menganggur atau bekerja dibawah kemampuan saat di dalam negeri. Sehingga mereka pergi pun tak akan berpengaruh apa-apa.

Dibanding Cina atau India, Indonesia belum mengalami brain drain serius. Cina harus menghadapi kenyataan 7 dari 10 warganya yang belajar di luar negeri tak pulang. Di India, akibat imigrasi para ahli komputernya setiap tahun ditaksir ada kerugian US$ 2 miliar. Tapi tak salah bila Indonesia mencontoh India, yang membiarkan brain drain terjadi. Seperti negara itu, Indonesia bisa memilih percaya bahwa harus keluar para ilmuwannya dalam jumlah besar, suatu saat justru akan menguntungkan.

Sumber : Koran TEMPO edisi Senin, 3 Januari 2011 halaman A2.

About kiki.febrian

manusia biasa yang simple dan apa adanya

Posted on Februari 13, 2011, in Kewarganegaraan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: