Makalah PERANAN KOMUNIKASI MASSA DALAM PEMBANGUNAN KEBUDAYAAN PERWAYANGAN

I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah

Pada kenyataannya komunikasi tidak semudah yang diduga. Kegagalan memahami pesan verbal ataupun nonverbal bahkan dapat mengakibatkan sebuah bencana. Memang banyak orang menganggap komunikasi itu mudah. Karena ada kesan enteng itu tidak mengherankan bila sebagian orang enggan menpeljari bidang ini.

Sesungguhnya komunikasi sangatlah penting dalam kehidupan dan cukuplah harus untuk lebih mempelajari secara lebih mendalam. Demikian pula dalam masalah pembangunan khususnya pembangunan kebudayaan. Komunikasi yang baik dan benar akan membuat suatu pembangunan menjadi lancer. Demikian pula dapat diketahui bagaimana mata rantai antar komunikasi yang diterima melalui berbagai media dengan struktur yang ada di masyarakat. Faktor inilah yang akhirnya akan menentukan bagaimana pelaksanaan atau kenyataan dari komunikasi di daerah yang bersangkutan.

Komunikasi dan kebudayaan merupakan suatu hal yang berbeda, akan tetapi sangatlah penting bila kebudayaan dipertahankan ataupun dikembangkan melalui jalan komunikasi. Salah satu caranya dengan memenfaatkan komunikasi massa sebagai media untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan, salah satunya kebudayaan perwayangan. Kebudayaan perwayangan saat ini sudah mulai dilupakan oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu perlunya ada tindakan nyata dari berbagai pihak dan komunikasi massalah yang memiliki peran cukup dominan dalam hal ini karena dapat direpresansikan ke seluruh lapisan masyarakat pada saat ini.

I.2. Tujuan Penulisan

  • Memberikan inforamsi kepada pembaca tentang komunikasi massa.
  • Memberikan informasi kepada pembaca tentang kebudayaan perwayangan.
  • Memberikan informasi kepada pembaca tentang peranan komunikasi massa dalam pembangunan kebudayaan perwayangan.

I.3. Identifikasi Masalah

Berdasarkan permasalahan di atas, maka dapat diidentifikasikan masalahnya yaitu:

  • Komunikasi massa
  • Peran komunkasi massa
  • Kebudayaan perwayangan
  • Pembangunan kebudayaan perwayangan

I.4. Dasar Teori

Istilah komunikasi massa pertama kali dipopulerkan oleh Melvin N. De Fleur dalam bukunya “Theories of Mass Communication” yang menyebutkan bahwa:

Masalah yang penting dalam teori komunikasi massa adalah bagaimana

mengukur pengaruh (effect) komunikasi terhadap kehidupan masyarakat

(London, 1966)

Teori ini mencangkup keseluruhan masalah yang dibahas dalam makalah ini sehingga memudahkan dalam penyusunan makalah sebagaimana dibutuhkan adanya peran serta komunikasi massa dalam pengembanagan kebudayaan.

 

II. KOMUNIKASI MASSA DALAM

PEMBANGUNAN KEBUDAYAAN

II.1. Konteks-Konteks Komunikasi

Komunikasi massa diadopsi dari istilah bahasa inggris, mass communication yang berate menggunakan media massa. Istilah mass communication atau communication diartikan sebagai salurannya, yaitu media masssa sebagai kependekan dari media of communicfation. Massa mengandung pengertian orang banyak, mereka tidak harus ber\ada di lokasi tertentu yang sama, mereka dapat tersebar atau terpencar di berbagai lokasi dan dalam waktu yang sama atau hamper bersamaan dapat memperoleh pesan-pesan komunikasi yang sama.

Ciri-ciri komunikasi massa adalah sebagai berikut:

  • Bersifat tidak langsung, artinya harus melalui media teknis.
  • Bersifat satu arah, artinya tidak ada interaksi antara pesrta-peserta komunikasi.
  • Bersifat terbuka.
  • Publiknya tersebar.

Komunikator dalam proses komunikasi massa selai merupakan sumber pesan, mereka juga berperan sebagai gate keeper yaitu  berperan untuk menanbah mengurangi, menyederhanakan ,mengemas agar semua informasi yang disebarkan lebih mudah dipahami oleh publik. Hal ini dipengaruhi oleh ekonomi, pembatasan legal, batas waktu, etika pribadi, profesionalitas, kompetisi diantara media dan nilai berita.

Dengan demikaian komunikasi massa dapat didefinisikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah audience yang tersebar, herterogaen, dan anonym melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesat.

II.2. Peran Media Massa Terhadap Kebudayaan

Peranan media massa dalam pembangunan terutama pembangunan kebudayaan adalah sebagai agen pembaharu (agent of social change). Letak peranannya dalam membantu masyarakat yang tradisional menjadi masyarakat modern. Jenis perubahan yang diinginkan oleh dsebagian besar bangsa-bangsa adalah perubahan yang lebih cepat daripada perubahan sejarah, lebih lunak daripada proses perubahan yang dipaksakan. Sikap paksaan dalam pembangunan diganti oleh sikap membujuk dan memberikan kesempatan partisipasi pada setiap anggota masyarakat. Setiap bangsa yang ingin meningkatkan proses pembangunan kebudayaan harus menyadarkan seluruh masyarakat akan arti pentingya pembanguanan serta membantumasyarakat mengenal kebiassan-kebiasaan baru secara lancer sehingga mereka dapat merasakan hasilnya.

Salah satu alasan yang menyebabkan sulitnya merubah kebiasaan lama maupun memperkenalkan cara-cara baru adalah eratnya hal-hal tersebut dengan kebiasaan dan kepercayaan-kepercayaan lain yang berbeda. Oleh sebab itu, berbicara soal perubahan, kita harus berbicara mengenai perubahan apa yang dibawakannya bagi seluruh nasyarakat. Persoalan yang erat hubungannya dengan ikatan budaya dalam proses pembaharuan adalah mengusahakan agar setiap aspek perubahan budaya harus ditempatkan pada suatu dasar pemikiran yang luas agar dapat menyesuaikan diri dengan pengaruh-pengaruh yang timbul serta usaha-usaha mempertahankan nilai-nilai budaya yang bermanfaat.

Orang-orangyang hidup dalam suatu masyarakat dimana media telah berperan sebagai bagian darikehidupan mereka, seiring melupakan bahwa banyak pelajaran yangf mereka peroleh lewat media. Tatkala surat kabar, televisi, radio bahkan intrnet mulai merambah luas, nedia ini berperan sebagai sumber berita utama bagi segala peristiwa. Seluruh generasi manusia membentuk pendapat mereka tentang masalah_masalah yang muncul sebagai dari hasil yang mereka pelajari.

II.3. Khalayak Media Massa

Mengapa orang-orang memberikan perhatian kepada media? Jawaban sinis akan mengatakan karena orang-orang itu tidak bias menghindari media. Jawaban yang lebih akurat akan menjelaskan bahwa media massa diperhatikan karena dapat memuaskan kebutahan atau keinginan-keinginan khalayaknya. Dalam beberapa tahun terakhir ini telah muncul berbagai penelitian, sayangnya jumlah itu belum begitu banyak. Ketika semua media bersaing menampilkan kualitas penyajian informasi secara lebih baik maka tinggallah bagaimana semua khalayak memilih media mana yang dijadikan sumber menerima informasi tersebut.

II.3.1. Media Cetak

Pernyataan bahwa orang membaca koran untuk memperoleh informasi memang tidak salah, namun terlalu sederhana. Seseorang ingin tahu sesuatu karena berbagai alasan: untuk meraih prestise, mnghilangkan kebosanan, agar merasa lebih dekat dengan lingkungannya atau untuk menyesuaikan perananya dalam masyarakat. Bagi sebagian orang, media cetak merupakan sumber informasi dan gagasantentang berbagai masalah publik yang serius. Mereka memerlukan tidak hnya beritanya, namun juga penafsirannya atau pendapat-pendapat pada tajuk rencana untuk membantunya merumuskan pendapat sendiri. Namun banyak juga yang menjadikan media cetak sebagai alat untuk membuatnya merasa serbatahu. Media cetak merupakan sarana wisata yang murah untuk sejenak melupakan rasa frustasi, rasa tertekan dan kebosanan. Lebih dari itu, media cetak merupakan alat yang secara social dapat diterima.

II.3.2. Media Elektronik

Radio dan televisi juga punya banyak fungsi sosial. Untuk kontak sosial, rujukan kehidupan sehari-hari, untuk menyenangkan diri sendiri, melepas kebosanan dan sebagainya. Sangatlah tidak sulit untuk memehami informasi yang tersaji dalam media elektronik. Pertama, adalah keinginan di kalangan pemirsa atau khalayak itu untuk ditenangkan dengan bujukan bahwa segala sesuatu baik-baik saja. Kedua, mereka bisa mengalihkan kesalahan atas terjadinyasuatu masalahg ke pihak lain. Ketiga, mereka ingin mendengar saran-saran gampang untuk merasa lebih bahagia. Rasional atau tidak, itulah yang dirasakan jutaan pendengar radio dan pemirsa televisi.

 

III. KOMUNIKASI MASSA DALAM

PEREWAYANGAN MASYARAKAT JAWA

III.1. Wayang Purwa

Wayang purwa, yang paling terkenal di antara kesenian Indonesia, di sini didefinisikan sebagai sebagai “bentuk seni pertunjukan yang menggunakan boneka dari kulit serta mnyajikan cerita yang pada mulanya berasal dari kepahlawanan Hindu: Ramayana dan Mahabhrata“. Bagian pertama dari definisi itu membedakan wayang purwa dari seni pertunjukan lainnya yang menyajikan cerita yang sama tetapi tidak menggunakan boneka kulit sebagaia “aktor dan aktris”-nya, misalnya wayang golek Sunda di Jawa Barat dan wayang orang. Wayang golek menggunakan boneka kayu tiga dimensi, sedangkan wayang orang diperankan oleh manusia. Istilah wayang sendiri berarti bayangan, tetapi dalam kisaran waktuini juga berarti pertunjukan.

Bagian kedua dari definisi itu membedakan wayang purwa dari jenis wayang yang lain, yang meskipun menggunaka boneka dari kulit (dalam bentuk apapun). Tidak menyajikan cerita yang berasal dari kedua cerita kepahlawanan Hindu tersebut . Dibandingkan dengan bentuk wayang yang lain, wayang purwalah yang paling terkenal, sedang jenis wayang yang lain dianggap sebagai bentuk kesenian yang “mati”.

III.2. Wayang Purwa Sebagai Sarana Pembangunan

Masyarakat jaman modern cenderung melihat tradisi serta perwujudan dari segi negatifnya. Mereka menganggap sebagai penghalang laju kemajuan, membelenggu tingkah laku manusia yang selalu mencoba bergerak ke depan dalam rangka mencapai tingkat kehidupan yang lebih baik. Di mata orang-orang modern, terutama mereka yang hidup di kota-kota besar di negara yang sedang berkembang, trdisi dihubungkan dengan keterbelakangan dan nilai-nilai kebudayaan yang kolot yang harus dikesampingkan kalau mereka ingin negeri mereka berkembang dan bersaing dengan baik di dunia modern ini.

Wayang purwa dapat menjembatani jurang pemisah antara penduduk kota dan pedesaan, antara penduduk kota yang maju dan penduduk desa yang terpelajar. Saat ini jika ditilik dengan cermat, media massa dapat berperan penting sebagai sarana pembangunan yantg kuat, terutama disebabkan karena surat kabarsudah trsebar luas seperti yang diharapkan. Walaupun tidak dapat dipungkiri media massa terutama media cetak hanya tersebar di kota-kota besar saja. Media massa yang lain pun telah memberikan gambaran yang lebih baik. Berkat kemajuan teknologi yang sangat pesat, orang-orang yang tinggal di daerah terpencilpun dapat menikmati media elektronik yang ada.

Sejalan dengan itu wayang purwa dengan ceritanyayang samgat terkenal, bersama dengan bentu-bentuk media tradisional lain seperti wayang golek Sunda, wayang Bali, wayang orang dan sebagainya, benar-benar tertanam dalam hati masyarakat sebagai kerangka referensi budaya yang dikenal. Disbanding dengan gedung-gedung biskop yang jumlahnya masih kurang apalagi di pedesaan-pedesaan, dalang wayang purwa yang berjumlah 20.000 dapat dengan ebih baik menjangkau masyarakat, karena mayang purwa menyampaikan pesan-pesan yang dikandungnya serta relevan dengan kerangka kebudayaan yang dikenal.

III.3. Komunitas Perwayangan Melalui Media Massa

Sejak tahun enam puluhan, stasiun-stasiun radio telah dan masih menyiarkan dengan tetap pertunjukan wayang purwa. Stasiun-stsiun radio di Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta secara bergiliran menyiarkan pertunjukan wayang purwa semalam suntuk setiap minggu.

Pertanyaan yang timbul adalah apakah wayang purwa sebagai suatu bentuk seni tradisional, dapat menyampaikan gagasan serta konsep baru? Dengan kata lain dapatkah wayang purwa berfungsi sebagai sarana pembangunan dan modernisasi?

Jawabannya adalah “ya”, karena wayang purwa dalam kisaran waktu telah menyisipkan perubahan-perubahan dalam bahasa dan agama, dan telah memperbaiki ceritanya. Lebih lanjut melalui adegan lawaknya, dalang selalu dapat memasukkan ide- modern dalam lelucon, percakapan dan nyanyian karena adegan ini tidak terikat oleh peraturan-peraturan yag kaku yang menikmati pertunjukan wayang dengan dalang yang terkenal, yang disiarkan melalui radio ataupun televisi ke seluruh tanah air, di mana pelawak-pelawak tradisional mengadakan pembicaraan yang berbobot menyangkut kehidupan sosial pada saat itu.

Wayang purwa dapat menjadi penghubung antara pandangan-pandangan yang sangat berbeda diantara penduduk desa dan kota. Wayang purwa dapat membantu mengurangi lebarnya jurang pemisah komunikasi, mencegah adanya perpecahan dalam masyarakat yang sangat membutuhkan suatu usaha bersama menuju keberhasilan pembangunan kebudayaan perwayangan.

 

IV. KESIMPULAN

Hubungan yang saling berpengaruh antara masyarakat dan media massa sudah berlangsung sejak lama. Begitu pula dengan pembangunan masyarakat di Indonesia. Adanya hambatan dari faktor-faktor non ekonomis tidak mampu memecahkan masalah pembangunan secara menyeluruh. Sikap mental masyarakat Indonesia yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan umumnya belum siap untuk pembangunan. Disinilah peran serta komunikasi massa yang memegang peranan dalam pembangunan sosial budaya Indonesia. Pembangunan yang efektif tentunya tanpa mengesampingkan nilai-nilai budaya yang telah menjadi ciri khas daripada suatu bangsa. Semakin tingginya tingkat perkembangan media massa pada saat ini haruslah menjadi tonggak pemacu kebudayaan yang ada pula, janganlah malah mengorbankan nilai-nilai budaya yang telah menjadi cermin suatu bangsa kita. Disimak lebih mendalam, rentetan peran serta media massa dalam peningkatan program siaran, presentase publik yang membaca sebuah media, atau jumlah penonton bioskop dapat disisipkan dengan kebudayaan-kebudayaan yang ada sebagai alat pembelajaran terutama bagi generasi muda unuk lebih mengetahui betapa pentingya kebudayaan dalam menjalani berbagai aspek kehidupan karena di dalamnya itu semua telah mengandung suatu konsep yang mengajarkan menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur serta dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain tentunya.

DAFTAR PUSTAKA

Depari, Edward dan Collin Mac Andrews

1985, Peranan Komunikasi Massa dalam Pembangunan, Yogyakarta:

Gadjah Mada University.

Koentjaraningrat

1981, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, Bandung: Srikandi

Media.

Rivers, William L. dan Jay W. Jensen

2004, Media Massa dan Masyarakat Modern, Jakarta: Prenada Media

Rogers, Everett M. dan F. Floyd Shoemaker

1971, Comminication of Innovation, New York: The Free Press

Soedjatmoko

1986, Dimensi Manusia dalam Pembangunan, Jakarta: LP3S

Mulyana, Deddy

2008, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Jakarta: Gramedia Indonesia

 

 

Penulis : Sadam Pratama ( FISIP,Universitas Nasional 2009)


About kiki.febrian

manusia biasa yang simple dan apa adanya

Posted on November 21, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: